Kamis, 14 Februari 2013




               Tentang Rasa , Tentang  Seseorang

Ibarat pensil warna, seseorang itu tiba- tiba datang, memberikan coretan dan guratan warna – warni di lembaran kehidupanku. Indah, nyata, dan mengesankan. Nuansanya pun menjadi berbeda, lebih cerah, kontras, namun tetap selaras.

Namun, terkadang aku bertanya. Kenapa dia datang tiba-tiba? Apa karena doa itu?

Tiga bulan lalu ibu bertanya apakah aku sudah memiliki seseorang. Aku menjawab apa adanya, “ Aku belum punya, bu”. Ibu hanya tertawa dan menanyakan alasannya. Aku cuma bisa nyengir dan menjawab dengan enteng bahwa kaum adam yang seangkatan denganku usianya lebih muda dan sebagian besar dari  mereka memang sudah mempunyai pacar. Aku hanya bisa tertawa dan mengatakan kalau nanti aku sudah masuk rumah sakit dan menjadi ko- ass, pasti aku akan mencari calon, entah calonnya itu dokter yang menempuh pendidikan dokter spesialis, teman sejawat, atau bahkan pasiennya. ibu kembali tertawa.  Aku mencoba meyakinkan ibu bahwa suatu saat nanti, cepat atau lambat, pasti ada seseorang yang datang memasuki kehidupan putrinya. 

Entah, doa itu kembali terucap dalam lubuk hati yang paling dalam.
“Ya Rabb, hamba butuh seseorang, yang bisa menguatkan dan memberi semangat kepada hamba. “. 

Aku lupa, sudah berapa kali aku memanjatkan doa itu. Mungkin bisa dibilang wajar karena kehidupanku sangat monoton, selalu dihiasi dengan banyaknya materi yang harus dihafal dan dinalar serta masalah organisasi yang biasanya membuat kepala semakin penat. 

Satu minggu pun berlalu. Tiba- tiba dia datang. Memberi harapan, memberi semangat, dan menularkan kekuatan. Aku bertanya kepada Tuhan, apakah dia ya Rabb?

Awal kedatangannya, aku merasa biasa saja. Namun, seiring waktu mulai berjalan, muncul sedikit perasaan yang sulit dijelaskan. Ambigu sekali. Aku berdoa kepada Tuhan

“Tuhan, jangan biarkan hamba menyukainya”. 

Perasaan itu terus tumbuh, semakin besar. Aku ingin mengakhirinya, namun , sertiap hari dia memberi keceriaan. Aku hanya merasa bahwa induksi kali ini semakin membesar.

Syukur masih aku haturkan kepada Tuhan karena aku masih mampu mengendalikan rasa itu. Aku mencoba untuk berpikir rasional karena aku tidak mau terjatuh untuk kedua kalinya, mengharap balasan dari seseorang yang pernah dekat denganku sebelumnya. Aku takut sakit, karena penyembuhan sakit hati lebih lama dari sakit fisik.

Syukur masih aku haturkan sekali lagi kepada Tuhan karena Tuhan telah mengirimkan dia untukku. Darinya aku belajar dan bisa lebih yakin tentang arti kerja keras, mimpi besar, harapan dan keikhlasan. Tidak tahu kenapa, aku merasa nyaman berinteraksi dengannya. Aku bisa menjadi diri sendiri tanpa menutupi kekuranganku.

Aku bersyukur bisa mengenalnya lebih dekat. Aku memang berharap, tapi aku tidak berani berharap lebih.  Aku tidak yakin dengan perasaannya kepadaku. Tapi aku tetap bersyukur dengan kondisi seperti itu. Menjadi teman pun bukan masalah bagiku. Karena Allah pasti memberikan jalanNya yang terbaik untuk kami. 

Untukmu
Terimakasih atas waktumu
Terimakasih atas harapanmu
Terimakasih atas semangatmu
Maaf, karena aku menaruh hati padamu
Entah, aku tiba-tiba menangis karenamu dalam doa dan dzikirku
Anggap saja angin lalu :D

Lakukan yang terbaik ya,
Demi Allah, agamamu, bangsamu, keluargamu, dan masa depanmu
Doaku untukmu dan akan menyertaimu, Danang PrayogoH


                                                                                                                                                    Jumat, 15 februari 2013
                                                                                                                                              






Tidak ada komentar:

Posting Komentar