Tentang Rasa , Tentang Seseorang
Ibarat pensil warna, seseorang itu tiba-
tiba datang, memberikan coretan dan guratan warna – warni di lembaran kehidupanku.
Indah, nyata, dan mengesankan. Nuansanya pun menjadi berbeda, lebih cerah, kontras,
namun tetap selaras.
Namun, terkadang aku bertanya. Kenapa
dia datang tiba-tiba? Apa karena doa itu?
Tiga bulan lalu ibu bertanya apakah
aku sudah memiliki seseorang. Aku menjawab apa adanya, “ Aku belum punya, bu”.
Ibu hanya tertawa dan menanyakan alasannya. Aku cuma bisa nyengir dan menjawab
dengan enteng bahwa kaum adam yang seangkatan denganku usianya lebih muda dan
sebagian besar dari mereka memang sudah
mempunyai pacar. Aku hanya bisa tertawa dan mengatakan kalau nanti aku sudah
masuk rumah sakit dan menjadi ko- ass, pasti aku akan mencari calon, entah
calonnya itu dokter yang menempuh pendidikan dokter spesialis, teman sejawat,
atau bahkan pasiennya. ibu kembali tertawa. Aku mencoba meyakinkan ibu bahwa suatu saat
nanti, cepat atau lambat, pasti ada seseorang yang datang memasuki kehidupan
putrinya.
Entah, doa itu kembali terucap dalam
lubuk hati yang paling dalam.
“Ya Rabb, hamba butuh seseorang,
yang bisa menguatkan dan memberi semangat kepada hamba. “.
Aku lupa, sudah berapa kali aku
memanjatkan doa itu. Mungkin bisa dibilang wajar karena kehidupanku sangat
monoton, selalu dihiasi dengan banyaknya materi yang harus dihafal dan dinalar
serta masalah organisasi yang biasanya membuat kepala semakin penat.
Satu minggu pun berlalu. Tiba- tiba
dia datang. Memberi harapan, memberi semangat, dan menularkan kekuatan. Aku
bertanya kepada Tuhan, apakah dia ya Rabb?
Awal kedatangannya, aku merasa biasa
saja. Namun, seiring waktu mulai berjalan, muncul sedikit perasaan yang sulit
dijelaskan. Ambigu sekali. Aku berdoa kepada Tuhan
“Tuhan, jangan biarkan hamba
menyukainya”.
Perasaan itu terus tumbuh, semakin
besar. Aku ingin mengakhirinya, namun , sertiap hari dia memberi keceriaan. Aku
hanya merasa bahwa induksi kali ini semakin membesar.
Syukur masih aku haturkan kepada
Tuhan karena aku masih mampu mengendalikan rasa itu. Aku mencoba untuk berpikir
rasional karena aku tidak mau terjatuh untuk kedua kalinya, mengharap balasan
dari seseorang yang pernah dekat denganku sebelumnya. Aku takut sakit, karena
penyembuhan sakit hati lebih lama dari sakit fisik.
Syukur masih aku haturkan sekali
lagi kepada Tuhan karena Tuhan telah mengirimkan dia untukku. Darinya aku
belajar dan bisa lebih yakin tentang arti kerja keras, mimpi besar, harapan dan
keikhlasan. Tidak tahu kenapa, aku merasa nyaman berinteraksi dengannya. Aku
bisa menjadi diri sendiri tanpa menutupi kekuranganku.
Aku bersyukur bisa mengenalnya lebih
dekat. Aku memang berharap, tapi aku tidak berani berharap lebih. Aku tidak yakin dengan perasaannya kepadaku.
Tapi aku tetap bersyukur dengan kondisi seperti itu. Menjadi teman pun bukan
masalah bagiku. Karena Allah pasti memberikan jalanNya yang terbaik untuk kami.
Untukmu
Terimakasih atas waktumu
Terimakasih atas harapanmu
Terimakasih atas semangatmu
Maaf, karena aku menaruh hati padamu
Entah, aku tiba-tiba menangis
karenamu dalam doa dan dzikirku
Anggap saja angin lalu :D
Lakukan yang terbaik ya,
Demi Allah, agamamu, bangsamu, keluargamu,
dan masa depanmu
Doaku untukmu dan akan menyertaimu,
Danang PrayogoH
Jumat,
15 februari 2013